Learn Marketing from Fishing Part 1

2008 Februari 16

 

Ada seorang bapak umurnya 50 tahun sedang memancing ikan di sebuah sungai yang tenang. Bapak itu bernama pak slamet, setelah mencari umpan berupa cacing tanah, beliau menuju bibir sungai dengan posisi dekat dengan sebuah pohon beringin. Agar tidak kepanasan katanya, selain itu karena banyak ikan suka berkeliaran di daerah yang aagak dingin seperti dibawah pohon.

Pak slamet mengambil satu cacing untuk dipasang di dua kail nya. Kepala cacing itu dipotong dibagian ujungnya setengah centimeter agar mudah di masukan ke kail pancing. Sebelum dimasukan ke dalam air sungai, kail yang sudah terpasang umpan cacing itu didekatkan ke mulut pak slamet. Dan terdengar bunyi “Juhhhh…Juhhhh..”Pak slamet mencoba memberikan taste pada umpan cacing itu. Kata dia untuk memberikan bumbu atau semacam penyedap rasa pada cacing itu. Kata dia pula dengan Pdnya…” Dengan air liur ini, umpan saya pasti akan dimakan oleh ikan-ikan yang lebih besar…”yaa..ini semacam sugesti dari pak slamet agar dapat ikan yang besar.

Beberapa saat kemudian setelah melemparkan kail  ke dalam sungai dengan kedalaman tertentu, umpan itu mulai di senggol-senggol ikan yang sedang kelaparan. Nampaknya siang itu sebagian besar ikan di sungai itu belum makan siang. Jadi begitu umpan masuk dalam air beberapa detik saja sudah didatengi. Tapi nampaknya umpan yang pertama ini belum bisa menarik ikan yang sedang kelaparan. Mungkin karena ikan sudah terbiasa dengan umpan seperti itu, jadi ikan punya teknik tersendiri untuk tidak terjebak oleh umpan cacing pak slamet.

Ekspekstasi pak slamet sungguh diluar dugaan. Harapan dia siang itu akan mendapatkan ikan yang banyak dan besar sungguh-sungguh salah besar. Setelah setengah jam memancing tidak satu ikan pun bisa terpancing walaupun ikan-ikan itu selalu memakan habis umpanya. Pak slamet ini ternyata kaya akan  ide dan benar-benar kreatif. Beberapa saat kemudian dia mancari beberapa ranting pohon yang kering serta jerami yang ada di sawah. Setelah dikumpulkan kemudian dia bakar, lalu beberapa cacing dipanggang hingga setengah matang. Kemudian baru digunakan untuk memancing. Ide aneh itu muncul dengan tiba-tiba ketika dia melihat Pak Hadi yang sedang istirahat makan siang di dekatnya setelah bekerja membeikan pupuk organik pada tanaman mentimunya. Pak Slamet melihat pak hadi sedang makan daging ikan yang sudah mateng digoreng. Baunya sungguh menggoda lidah pak slamet.

Dia berpikir bahwa sesuatu yang matang pastilah akan jauh lebih enak daripada sesuatu yang mentah. Ya dengan ide sesederhana itu dia mencoba menerapkanya pada cacingnya. Dia memanggang cacingnya dengan kematangan separo saja, agar mudah dimasukan kedalam mata kail. Apa yang dia lakukan itu membuahkan hasil yang significant. Setelah mata kail dengan daging cacing setengah matang itu masuk ke dalam air, si ikan-ikan jadi kebingungan karena ada taste yang luar biasa dan bentuk yang berbeda dari umpan itu. Si ikan-ikan berkumpul banyak tanpa teknik memakan umpan yang tepat, para ikan mencoba berebut umpan cacing.  Setelah itu pak Slamet berhasil mendapatkan banyak ikan.

What’s is the lesson from the story above? You can take any lesson from fishing  used to marketing. If you have any satetement about what is the truth lesson from story above, please  write any comment.  Thanks a lot.

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS